HOME

Kamis, 22 September 2011

Rampak Bedug Khas Banten


Siapa yang tak kenal bedug? Adakah orang Banten yang tak kenal bedug? Nyaris bisa dibilang semua rakyatBanten kenal akan bedug.
Bedug memang Indonesia banget, walau di negara lain seperti Cina atau Jepang ada juga jenis kesenian ini. Hanya saja beda dengan yang di Indonesia, bedug tak lepas dari seni budaya Islam yang melekat di seluruh penjuru Nusantara. Dan dijadikan sarana alat komunikasi yang “canggih” sebelum ditemukannya alat pengeras suara dan tetap dipakai walau alat pengeras suara sudah ada dan dapat mengalahkan jarak suara yang terdengar dari bedug, tapi bedug sampai saat ini terus bertahan dengan kegagahannya, bagai karang di tengah lautan yang terus berdiri tegak walau dihantam gelombang lautan setiap saat!


Di tempat kelahiran Islam sendiri, tak ada bedug! Di timur tengah dari mulai Saudi Arabia, Irak, Iran, Syria, Mesir, Libya, Tunis, Marokko dan lain sebagainya, tak ada bedug!
Anda bisa bayangkan, betapa serunya mengarak bedug sambil takbir ke liling kampung, atau kalau di kota takbir keliling dengan mobil bak terbuka, dingin-dingin di malam hari, suara takbir menggema diiringi suara bedug bertalu-talu, wah anda cari moment seperti itu di negara manapun, saya rasa tak ada! Bisa anda buktikan, di malam takbiran orang-orang, yang jelas-jelas malam hari, saatnya tidur nyenyak, tapi dari mulai anak-anak kecil sampai orang dewasa terbawa arus mengarak bedug sambil takbiran! Sungguh suasana yang tak akan pernah dilupakan oleh sejarah Islam Indonesia.
Jadi, siapa yang berani bilang, bedug bukan budaya Indonesia? Ingat tadi, bedug yang berhubungan dengan ajaran agama, bahkan untuk rampak bedug, selain tarian yang bersipat agamis dan pakaian yang bernuansa Islami, bila dibarengi lagu, maka syairnya adalah selawat kepada nabi Muhammad SAW, karena memang wujud dari rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi bedug dan adzan,  rampak bedug dan selawat nabi, ibarat dua sisi mata uang yang sama pentingnya dan lagi-lagi itu hanya ada di Indonesia, Indonesia banget!
“Rampak Bedug” dapat dikatakan sebagai pengembangan dari seni bedug atau ngadulag. Bila ngabedug dapat dimainkan oleh siapa saja, maka “Rampak Bedug” hanya bisa dimainkan oleh para pemain profesional. Rampak bedug bukan hanya dimainkan di bulan Ramadhan, tapi dimainkan juga secara profesional pada acara-acara hajatan (hitanan, pernikahan) dan hari-hari peringatan kedaerahan bahkan nasional. Rampak bedug merupakan pengiring Takbiran, Ruwatan, Marhabaan, Shalawatan (Shalawat Badar), dan lagu-lagu bernuansa religi lainnya.
Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, persis seperti seni ngabedug atau ngadulag. Tapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual, sama dengan seni-seni musik komersial lainnya. Walau para pencetus dan pemainnya lebih didasari oleh motivasi religi, tapi masyarakat seniman dan pencipta seni memandang seni rampak bedug sebagai sebuah karya seni yang patut dihargai.
Rampak bedug selain berfungsi religi, yakni menyemarakan bulan suci Ramadhan dengan alat-alat yang memang dirancang para ulama pewaris Nabi , juga memiliki fungsi rekreasi/hiburan. Tentu saja berbeda dengan ngabedug, rampak bedug memiliki fungsi ekonomis, yakni suatu karya seni yang layak jual. Masyarakat pengguna sudah biasa mengundang seniman rampak bedug untuk memeriahkan acara-acara mereka. Dalam fungsi religi selain menyemarakan Tarawihan adalah sebagai pengiring Takbiran dan Marhabaan.
Busana yang dipakai oleh pemain rampak bedug adalah pakaian Muslim dan Muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki-laki misalnya mengenakan pakaian model pesilat lengkap dengan sorban khas Banten, tapi warna-warninya menggambarkan kemoderenan: hijau, ungu, merah, dan lain-lain (bukan hitam atau putih saja). Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari-tari tradisional, tapi bercorak kemoderenan dan relatf religius.
Misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar kuning dan di dalamnya mengenakan celana panjang warna merah jenis celana panjang pesilat. Di luarnya mengenakan kain merah tanpa dijahit yang bisa dililitkan dan digunakakan untuk semacam tarian selendang. Banyunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan memakai ikat pinggang besar. Adapun rambutnya mengenakan sejenis sanggul bungan yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.
Pada awalnya seni rampak bedug dipentaskan untuk mengiringi Takbiran di hari Lebaran. Kemudian berkembang juga untuk acara ruatan dan Marhabaan. Sekarang malah berkembang lagi sebagai seni profesional untuk mengisi hiburan dalam acara hajatan pernikahan, khitanan, dan peringatan hari-hari nasional maupun kedaerahan. Lagu-lagu yang diiringinya pun berkembang, diantaranya Shalawat Badar dan lagu-lagu bernuansa religi lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar